Minggu, 07 Juli 2013

You Is My Friend




Aku sudah bosan berlarut-larut dalam kebingungan ini. Aku lelah terus menanti perubahan sikapmu itu. Aku berusaha bersikap seperti biasa, seolah-olah di antara kita tidak pernah terjadi masalah. Tapi kamu tetap bertahan dengan sikap diammu itu tanpa pernah berpikir apa aku akan baik-baik saja?
Tidak… tidak akan aku biarkan kamu memperlakukanku seperti ini! Kita harus bicara! Sungguh! Akan ku coba membuatmu mengerti!
“Ndre. Aku mau bicara sama kamu. Penting.”
Saat itu ku beranikan diri mengawali obrolan yang sudah hampir 3 bulan tidak pernah terdengar. Wajahnya keheranan setelah tahu siapa yang telah mengusik kesibukannya. Ya, saat itu dia sedang berbincang-bincang dengan salah seorang teman sekelas kami. Aku tidak berani menatapnya lebih lama lagi, karena aku selalu menghindari sorotan tajam mata itu. Mata yang membuatku salah tingkah.
“Ikut aku.”, ujarnya.
Dia berjalan mendahuluiku dan aku seperti ekor yang dengan patuh mengikuti dari belakang. Kebetulan hari ini dosen jam pertama tidak hadir, jadi kami masih punya waktu sekitar 1 jam untuk bersantai. Kami menuruni anak tangga, dan saat itu aku masih saja berjalan sambil menundukkan kepala.
DUK!
“Aduh!”
Aku meringis sambil mengelus-ngelus kepalaku yang secara tak sengaja menabrak punggungnya. Well, aku tidak sadar kalau Andre menghentikan langkahnya tadi. Aku mendongakkan kepala saat ia memutar badannya menghadapku. Humph! Astaga, rasanya aku tidak bisa bernafas. Andre sedang menatapku tanpa ekspresi, membuatku makin grogi. Untungnya aku masih bisa mengontrol diri.
“So,” “Apa yang mau kamu omongin, Na?”, tanyanya kemudian.
“Soal sikap kamu!”, ujarku dengan nada meninggi.
“Ha? Sikapku yang mana lagi, hah? Begini salah, begitu salah. Mau kamu apa sih?”
“Aku mau kita seperti dulu lagi, Ndre! Aku mau kamu berhenti pasang aksi “diam” ke aku terus-terusan! Kamu pikir aku tahan gak bicara sama kamu selama 3 bulan?!”
“Ternyata kamu masih saja belum mengerti, Na. Aku justru berusaha menjaga jarak di antara kita!”
Aku menatapnya tak percaya. Menjaga jarak? Setelah berbagai hal yang sudah mereka lewatkan bersama, bisa-bisanya Andre mengatakan hal seperti itu!
“Kenapa, Ndre?! Kenapa harus sampai segitunya sih?! Memangnya apa yang udah aku lakuin?!”, tanyaku gusar.
“Bukan kamu, Na, tapi KITA! Tanpa sadar kita sudah buat orang-orang berpikir kalau kita itu pacaran! Aku risih, Na! Aku berusaha menjaga jarak supaya mereka berhenti beranggapan seperti itu!”
PLAK!
Andre memegangi pipinya. Ia menatapku dengan penuh tanda tanya. Mungkin ia bingung kenapa aku sampai hati menamparnya.
“Jadi karena itu kamu memilih untuk sama sekali nggak bicara sedikitpun sama aku, Ndre? Hanya gara-gara mereka suka meledek kita, berkomentar macam-macam, sampai akhirnya kamu harus memperlakukan aku seperti ini?! Aku nggak percaya ternyata kamu pengecut! Kenapa harus dengan cara ini, HAH?! Kamu kan bisa bilang ke aku, Ndre… kita bisa selesaikan masalah ini bak-baik. Ini kan soal KITA! Bukan hanya KAMU!”
Bibirku bergetar saat meluapkan apa yang telah aku rasakan selama ini. Wajahku memanas, sepanas telingaku mendengar alasan perubahan sikapnya itu. Aku tidak bisa menahan air mata ini lebih lama. Kubiarkan mengalir sebagaimana mestinya.
“Apa salahnya kalau mereka berbicara seperti itu. Apa salahnya kalau kenyataannya kita memang dekat, Ndre. Kalaupun kamu nggak suka, apa kamu nggak bisa menganggap semua itu hanya sebuah “guyonan”? Wajar kan kalau mereka suka bercanda. Kamu pun seperti itu, kan?”
“Justru aku makin ngerasa bersalah, Na. Kamu itu sudah ada yang punya, sedangkan aku? Aku nggak mau mereka berpikiran kita itu selingkuh!”
“Apa kamu ngerasa kita seperti itu? Apa kita pernah pergi berdua, pegangan tangan, dan sebagainya! Kita memang deket, Ndre, tapi kita nggak selingkuh! Kita cuma sekedar teman belajar! Astaga, kenapa kamu… ah! Sudahlah, Ndre. Aku sendiri bingung aku harus menjelaskan apalagi.”
Aku mendesah. Sudah. Aku sudah menyerah. Aku sekarang pasrah, ia akan bertahan dengan sikapnya itu atau memilih menyudahinya. Aku sudah sangat kesal! Saking kesalnya sampai-sampai aku tersenyum sendiri.
“Ndre, entah bagaimana kamu mengartikan kedekatan kita selama ini. Tapi sejujurnya, aku cuma ingin jadi teman yang baik buat kamu. Teman yang selalu ada di saat apapun, yang selalu mengingatkan kamu segala hal. Aku senang bisa jadi alarm buat kamu. Hmm.. Aku minta maaf ya. Maaf kalau ternyata hal ini membuat kamu terganggu,” ujarku seraya tersenyum.
Aku dapat melihat wajah kekesalannya. Tapi tak butuh waktu lama untuk melihatnya, karena kedua kaki ini terasa gatal ingin segera meninggalkan tempat itu. Mungkin ini akhir dari hubungan kita. Ya, aku telah gagal menjalin persahabatan dengan salah satu cowok terpintar di kelasku.
Satu minggu berlalu. Aku telah menjalani hari-hari pasca pembicaraan dengan Andre dengan sangat baik. Aku telah putuskan sejak hari itu aku akan membuka lembaran hidup yang baru. Tidak ada lagi namanya dalam kehidupanku. Tapi sepertinya tidak begitu dengan Andre. Ia sering ku pergoki curi-curi pandang saat pelajaran berlangsung. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya yang lucu. Hal yang dulu juga aku lakukan untuk menarik perhatiannya. Hah, boomerang itu sudah mengenai dirinya sendiri. Perubahan sikap kami ternyata berpengaruh pada teman-teman yang lain. Mereka sendiri bingung, kenapa sekarang aku dan Andre tidak sekompak dulu. Bahkan kami terkesan bersaing dengan keras. Jika ada yang bertanya, aku hanya menanggapinya dengan santai.
“Oh ya? Masa sih kita berubah?”
Hahaha. Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan ini semua. Yah, walaupun aku akui terkadang perasaan rindu itu menghantui. Bagaimana mungkin kita bisa melupakan seseorang yang sangat berarti dengan begitu mudah?
Hari ini tidak seperti biasanya aku ingin telat datang ke kampus. Malas bertemu dosen Literature yang nggak asyik itu. Toh telat pun Miss. Rina tidak akan berkomentar apa-apa.
Tapi rupanya Miss. Rina tidak hadir mala mini. Pantas saja, saat ku intip dari balik pintu terlihat teman-temanku sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Krieet. Aku perlahan membuka pintu kelas, memasuki kembali dunia pendidikan yang saat ini ku tempa. Begitu mengetahui siapa yang datang, keadaan kelas yang tadinya ramai, mendadak sunyi senyap. Aku masih saja berdiri di depan pintu. Mematung keheranan. Ku toleh ke belakang, mungkin saja ada dosen lain yang datang, karena sikap seisi kelas sangat aneh. Tapi tidak ada seorangpun. Ku teliti lagi arah pandang mereka. Hanya ke satu titik. Aku.
“Hai! Kok pada bengong gitu sih? Kenapa?”, tanyaku penasaran.
Namun mereka sama sekali nggak memberikan jawaban. Dengan kompak mereka menunjuk ke arah whiteboard di depan kelas.
“Aku memang bukan teman yang baik karena sudah membuat kamu menangis. Aku seharusnya berterima kasih atas semua perhatian yang sudah kamu berikan. Aku tahu aku terlalu bodoh menanggapi perkataan orang lain tentang kita. Aku nggak berharap kamu akan bisa memaafkan aku. But, would you like to be my friend again?”
“Hah?! Ini… siapa yang…”
Belum selesai mengutarakan kekagetanku, ada seseorang menarik lenganku dari belakang. Aku pun berbalik. Dan ternyata kekagetan tadi gara-gara…
“Andre?”, “Ini maksudnya.. apa?”, tanyaku bingung.
Tampak Andre merogoh saku kanannya. Sebatang coklat pun muncul.
“Hana… maafin aku ya?”
“Cciieee…!”
Sorakan pun terdengar memenuhi kelas. Wajahku memerah menahan malu. Kaget, senang, lucu, malu, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu.
“Kalau kamu terima coklat ini, itu artinya kamu maafin aku. Kalau dalam hitungan 10 detik coklat ini nggak kamu ambil, berarti kamu masih marah.”, ujar Andre.
Andre kemudian menutup matanya. Aku bingung sekali, what should I do?
“Satu… Dua… Tiga…”
Hitungan mulai berjalan. Aku panik. Aku mau saja menerima coklat itu, tapi di satu sisi aku masih merasa kesal dengan sikap Andre.
“…sembilan… sepu…”
“Iya, Ndre! Iya… Aku terima permintaan maaf kamu. Juga coklat ini.”, ujarku dengan wajah tertunduk sambil mengambil coklat itu.
“Horeee..! Prok! Prok! Prok!”.
Suasana kelas makin gaduh. Apalagi saat mereka menyuruh kami berpelukan sebagai tanda kami sudah baikan. Duh! Ampun deh…
Andre tampak senang sekali. Dapat ku baca ekspresi itu di wajahnya. Tiba-tiba aku merasa badanku tertarik ke depan. Oh, tidak. Andre… memelukku?
“Makasih ya, Na. Makasih kamu udah mau maafin aku. Aku janji, kali ini aku yang akan jadi teman yang baik buat kamu!”.
Aku tersenyum mendengarnya. Aku senang karena akhirnya Andre kembali seperti dulu lagi. Bahkan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ndre, tolong jangan seperti ini lagi ya. Aku tulus berteman dengan kamu. Aku sayang sama kamu. Jangan lagi mengecewakan perasaanku. Jangan rusak hubungan ini lagi. Hanya itu pintaku. Tentu saja semua itu ku ungkapkan di dalam hati. Terima kasih Tuhan. Kau kembalikan sahabatku lagi.
“ANDRE! HANA! APA-APAAN KALIAN INI?”
Kami langsung saja melepaskan pelukan. Suara itu tidak asing di telinga kami. Begitu tahu si empunya suara, aku dan Andre saling pandang. Itu kan, Miss. Rina…
“Oh.. Tidak..”
TAMAT


 Cerpen Karangan: Hefi Rusdiana
Blog: hepydianaa.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More