Minggu, 07 Juli 2013

Harga sebuah impian (The price of a dream)



Harga Sebuah Impian 

 


Andalusia pada masa Umayyah. Ada tiga orang pemuda yang beprofesi sebagi kuli angkut. Pada suatu malam, ketika makan malam, ketiganya duduk sambil ngobrol.
“Seandainya aku menjadi khalifah, apa yang kalian berdua angan-angankan?” Tanya salah seorang dari mereka yang bernama Muhammad.
”Wah itu tidak mungkin,” jawab dua temannya.
“Andai saja,” timpal Muhammad.
“Ya, itu juga tidak mungkin,” kata temannya menimpali.
“Kamu lebih baik menjadi kuli saja. Jika jadi khalifah, akan banyak orang yang menentangmu,” kata yang lain.
“Sudah aku katakan, seandainya saja aku menjadi khalifah.”
Pikiran Muhammad pun melanglang buana, menghayalkan andai dirinya duduk di kursi kekhalifahan.
Dia berkata kepada salah satu temannya, “Apa yang kau inginkan teman?”
”Aku menginginkan kebun-kebun yang berbuah lebat.”
“Apa lagi?”
“Sekandang kuda”
“Apa lagi?”
“Aku ingin seratus budak wanita.”
“Lalu apa lagi?”
“Seratus ribu dinar emas.”
“Apa lagi?”
“Sudah cukup itu saja wahai Amirul mukminin.”
Muhammad tenggelam dalam lamunannya yang penuh ambisi itu. Dia melihat dirinya seakan duduk di kursi kekhalifahan memberikan permintaan temannya dan merasakan kegembiraan yang luar biasa.
Kemudian ia menoleh kepada temannya yang lain.
”Apa yang kau inginkan teman?”
”Wahai Muhammad, engkau hanyalah seorang kuli. Sedangkan kuli tidak pantas menjadi khalifah,” jawab temannya.
“Biarkan sajalah saya dengan semua khayalan saya. Apa yang kau inginkan?”
“Dengarlah wahai Muhammad, jika engkau menjadi khalifah, maka dudukkan aku di atas keledai, hadapkan aku ke belakang, kemudian suruhlah orang agar berjalan bersamaku di gang-gang kota sambil berteriak ‘Hai orang-orang, inilah Dajjal penipu. Siapa yang berjalan dengannya, atau berbicara dengannya akan kutempatkan dia di penjara!’.”
Lama kelamaan percakapan mereka pun mulai berubah menjadi dengkur. Mereka tertidur.
Bersamaan dengan terbitnya matahari, Muhammad bangun dan mendirikan shalat fajar. Setelah itu ia duduk terpekur. Dalam duduknya ia teringat kembali akan impiannya.
“Memang benar,” katanya dalam hati, “Seorang kuli tak pantas menjadi khalifah. Tapi apabila seseorang menjalani hidup tanpa ada perkembangan dalam keilmuan, tanpa ada penentu untuk cita-cita dan ambisinya, tak mungkin ia bisa maju. Bahkan dia akan tertinggal.”
Ia mulai memikirkan langkah awal untuk mencapai cita-cita yang ia inginkan. Akhirnya, sebagai harga untuk impiannya ia memutuskan untuk menjual keledainya.
Saudaraku, apa yang harus kita jual untuk memulai langkah kita? Yang harus kita jual adalah pesimisme kita yang sering tercermin dengan kata-kata, “Aku tidak bisa, aku tidak pantas, aku bukan ahlinya.” Seolah kita mengatakan pada diri kita bahwa aku buruk, aku tak berguna. Kita seharusnya mengganti kata-kata negatif itu dengan kata positif, “Aku bisa dengan ijin Allah, aku bisa menghadirkan yang lebih baik, saya bisa ambil bagian dalam membangun masyarakat.”
Ibnu Abi Amir alias Muhammad pergi dengan membawa segenap kesungguhannya. Ia cari cara yang bisa mengantarnya pada cita-cita. Ia pun memutuskan untuk masuk akademi kepolisian. Kesungguhan dan semangatnya menjadikan karirnya cepat meningkat. Tak lama ia diangkat menjadi kepala polisi di Andalusia.
Saat ia menjabat sebagai kepala polisi, khalifah Umayyah meninggal dan digantikan oleh anaknya, Hisyam Al-Muayyid Billah yang saat itu baru berumur sepuluh tahun.
Apakah bisa anak sekecil itu mengurus pemerintahan?
Masyarakat bersepakat untuk mencarikan seorang penasihat untuknya, tapi mereka takut mengangkat penasihat dari kalangan Bani Umayyah karena bisa merebut tahta kerajaan. Akhirnya, mereka menetapkan semua penasihat harus dari luar Bani Umayyah. Jatuhlah pilihan kepada Muhammad bin Abi Amir, Ibnu Abi Ghalib, dan Al-Mushafi. Muhammad bin Abi Amir yang memiliki kedekatan dengan ibunda khalifah mendapat kepercayaan lebih. Dia pun mengadukan kelakuan buruk Al-Mushafi ketika menjadi penasihat kepada ibunda khalifah yang berbuntut dilengserkannya ia dari kursi penasihat. Muhammad akhirnya menikahkan puteranya dengan putri Ibnu Abi Ghalib.
Selang beberapa lama, akhirnya ia menjadi penasihat tunggal sang khalifah muda. Ia membuat sebuah keputusan umum bahwa khalifah hanya boleh keluar dengan izinnya. Selain itu, ia juga menetapkan bahwa pergantian masalah hukum harus dilakukan di istananya.
Beberapa kali pasukan Bani Umayyah berperang dan menaklukkan beberapa kota. Daulah Bani Umayyah di masa Muhammad bin Abi Amir pun semakin luas. Muhammad juga menjadikan kenyataan beberapa kemenangan dimana para khalifah Bani Umayyah belum pernah mencapainya di Andalusia. Sampai sebagian dari ahli sejarah mengatakan bahwa waktu itu adalah masa terputus di daulah Umayyah, dan dinamai dengan daulah Amiriyyah. Begitulah yang diperbuat sang penolong, Muhammad bin Abi Amir. Dia mampu menjadikan angannya kenyataan dengan tawakkal kepada Allah dan memanfaatkan kemampuan terpendam yang dikaruniakan oleh Allah.
Suatu hari, tiga puluh tahun berselang sejak dijualnya keledai, setelah sang penolong menduduki kursi kekhilafahan dan
dikelilingi para ulama, fukaha, dan para pemimpin, ia teringat dua orang kuli, temannya dahulu. Lantas dia mengutus seorang tentara  untuk menemui mereka.
”Pergilah ke kota itu. Jika kau dapati dua orang laki-laki dengan ciri seperti ini, datangilah dan katakan pada mereka, kamu dipanggil oleh Amirul Mukminin.”
Tentara itu pun berangkat dan menemukan dua laki-laki dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Ibnu Abi Amir. Pekerjaan mereka masih sama. Tempat mereka sama. Kepandaian mereka juga sama. Mental kuli mereka juga masih melekat sejak tiga puluh tahun silam.
”Sesungguhnya Amirul Mukminin meminta kalian berdua ke istana.”
”Kami tidak melakukan kesalahan apa-apa, kami tidak melakukan apapun,” jawab si teman.
“Amirul mukminin menyuruhku untuk membawa kalian ke hadapannya.”
Sesampainya di istana, mereka takjub ketika melihat bahwa sang khalifah adalah Muhammad, teman mereka dahulu.
”Apakah kalian berdua masih mengenaliku?” Tanya Muhammad.
“Ya, wahai Amirul mukminin,” jawab keduanya, “Justru kami takut bahwa engkaulah yang sudah tidak mengenal kami.”
“Aku masih mengenali kalian.”
Kemudian Muhammad melihat ke kebun di samping dan berkata:
“Tiga puluh tahun lalu kita bersama-sama bekerja sebagai kuli. Suatu malam kita duduk-duduk berbincang bincang. Saat itu aku membayangkan menjadi khalifah dan bertanya apa yang kalian inginkan.”
Lalu ia menoleh ke salah satu dari mereka,
”Apa yang kalian inginkan, teman-temanku?”
“Kebun yang berbuah lebat,” jawab temannya.
”Kebun yang ini dan ini sekarang milikmu. Apa lagi?”
“Sekandang kuda”
“Baiklah kau mendapatkannya. Apa lagi?”
“Seratus budak wanita”
“Engkau akan miliki seratus budak wanita itu. Apa lagi?”
“Seratus ribu dinar emas”
“Itu milikmu. Apa lagi?”
“Sudah cukup wahai Amirul mukminin,” kata temannya itu.
“Engkau juga mendapatkan gaji tanpa kerja, dan bisa masuk istanaku tanpa birokrasi.”
Kemudian ia menoleh kepada temannya yang lain dan bertanya,
“Apa yang kau inginkan?”
“Maafkan aku wahai Amirul Mukminin,” jawabnya.
“Tidak, demi Allah, sampai kau beri tahu mereka apa yang kau inginkan.”
”Kita kan teman wahai Amirul mukminin.”
“Tidak, demi Allah, sampai kau beri tahu mereka apa yang kau inginkan.”
“Jika engkau menjadi khalifah, maka dudukkan aku di atas keledai, hadapkan aku ke belakang, kemudian suruhlah orang
agar berteriak ‘Hai orang-orang, inilah sang pembohong ulung. Siapa yang berjalan dengannya, atau berbicara dengannya akan kupenjarakan dia!’.”
“Laksanakan sesuai dengan yang ia inginkan agar dia tahu bahwa Allah Mahasanggup atas segala sesuatu.” kata Muhammad bin Amir.
Memiliki mimpi itu penting, sama pentingnya dengan action plan. Mimpilah yang membuat Anda bergerak. Tanpa mimpi Anda akan diam di tempat. Mulailah dari bermimpi kemudian raihlah sukses Anda karena kebanyakan orang sukses memulai dari mimpi.
Banyak hal yang bisa menghalangi kita dari sukses. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi kita dari bermimpi. Setinggi apa pun mimpi Anda. Yang terpenting setelah bermimpi adalah take action, mengambil langkah untuk mewujudkannya. Mimpi Anda sekarang, menentukan hidup Anda beberapa tahun ke depan.
Saatnya Anda buat mimpi Anda sekarang

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More